Jumat, 07 Desember 2018


Hasil gambar untuk logo tut wuri

Kebanyakan orang menyebutnya Tutwuri Handayani yang sebenarnya adalah Logo atau Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lambang ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 dengan uraian arti lambang sebagai berikut:


(1)   BIDANG SEGI LIMA (Biru Muda)
Menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
(2)   SEMBOYAN TUT WURI HANDAYANI
Digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan system pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
(3)   BELENCONG MENYALA BERMOTIF GARUDA
Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: “Satu kata dengan perbuatan Pancasilais”
(4)   BUKU
Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
(5)   WARNA
Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih.
Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup pancasila).
Makna Logo Pendidikan Nasional
Arti dari semboyan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik).

Tut Wuri Handayani adalah penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa, bapak pendidikan kita, yang baris terakhirnya juga menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia : Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Maknanya lebih kurang : di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).

Kalimat itu menjadi rujukan saat bicara tentang konsep kepemimpinan yang baik, memberi tuntunan bagaimana seharusnya seorang pemimpin atau seorang guru (yang digugu dan ditiru) bertindak.

Ketiga kalimat itu berulang-ulang ditulis, dibahas, diingat kemudian dilupakan. As usual, idelisnya kita sampai di mulut saja. Begitu turun ke perut yang serba idealis tadi akan menguap ke atas dan masuk kembali ke kepala dalam sebentuk angan-angan tentang suatu hal yang ideal. Keluar lagi lewat mulut, begitu turun ke perut menguap lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. (Do you catch me?)

Kalimat itu begitu sering diucapkan, dibaca, dibahas sampai si pendengar atau si pembaca lupa untuk memahami, belum sampai taraf menghayati, apalagi mengamalkan. Untuk sampai ke tahap paham saja sulit. Sebab umumnya begitu tahu, sudah puas. Berhenti, dan mengira dirinya sudah hebat.

Ing Ngarso Sun Tuladha
Di depan memberi teladan. Duh susahnya menjadi teladan. Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan dan tindakannya. Melakukan segala sesuatu secara benar. Memberi contoh yang baik. Itu sulit. Alamiahnya manusia itu selalu mondar-mandir di dua kutub. Mana bisa menjadi baik terus. Seharusnya juga tidak buruk terus.
Menyeimbangkan dua kutub itu adalah perjuangan seumur hidup. Lalu kalau untuk seimbang saja harus berjuang seumur hidup, sewaktu-waktu bisa tergelincir jatuh, bagaimana memberi teladan? Ya dengan menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk tetap seimbang itu tadi. Saat kita senantiasa sadar dan berusaha menyeimbangkan diri, tidak perlu repot-repot memikirkan apa teladan yang baik, sebenarnya kita sudah memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa
Di tengah memotivasi, menggugah semangat, kemauan dan niat. Ini juga sulit. Bagaimana membuat situasi yang kondusif untuk orang lain agar bisa berkembang, menggugah semangat untuk terus meraih kemajuan itu sulit. Apalagi kita dihadapkan pada masalah internal diri kita sendiri dan masalah eksternal dengan lingkungan kita. Tidak bisa? Oh bisa. Yang diperlukan hanya niat baik untuk melakukannya. Asal paham lakonnya hidup, baris yang inipun pasti akan dilakukan orang-orang dengan senang hati. (Bagaimana lakonnya hidup? berdiamlah --maka kau akan tahu!).

Tut Wuri Handayani
Di belakang memberi dorongan moral. Nah ini dia. Katanya seorang pemimpin atau guru atau orang yang lebih pandai, lebih tahu-- saat membimbing orang lainnya harus bersikap sebagai among (ini bahasa Jawa, bukan Inggris!). Pengemong. Pengasuh. Jadi yang menjadi fokus adalah yang diasuh. Karena itu saat yang di asuh merasa lemah, merasa tidak mampu, pengemong akan maju memberi dorongan semangat, dukungan moral. Dengan kata-kata, dengan sikap perbuatan. Dengan hati yang penuh cinta. (iya penuh cinta, karena tanpa yang satu ini, tidak akan pernah bisa ada tindakan tut wuri handayani).

Jadi kesimpulannya apa yang coba disampaikan KH Dewantoro itu adalah : sadarlah pada pikiran, perkataan dan tindakan kita, pahami hidup dan kembangkan cinta kasih. Inilah pemahaman saya tentang Ing Ngarsa Sun tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Apabila pemahaman saya tentang kalimat KH Dewantoro ini mengalami distorsi makna karena ketidaktahuan saya,  karena dari pengalaman saya, setiap kata bahkan huruf, dalam bahasa Jawa selalu punya makna, maka saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya dan mohon untuk masukannya untuk menyempurnakan artikel ini.


Kamis, 01 November 2018


SERVER HADIR GTK KEMENDIKBUD
TERLALU SULIT DI AKSES





Pemandangan seperti ini telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir sejak munculnya server hadir.gtk.kemdikbud.go.id versi ke 2.

Untuk dapat mengakses server hadir.gtk.kemdikbud.go.id versi ke 2 ini diperlukan koneksi internet yang stabil dan waktu tertentu ketika trafik di server sedang lowong, misalnya waktu dini hari sampai menjelang subuh, hal ini tentu sangat menyulitkan para operator sekolah karena harus bekerja ekstra untuk melakukan absensi para GTK disekolah mereka masing-masing. Ditambah dengan adanya wanti-wanti dari Dinas Pendidikan dikabupaten atau kota masing-masing ketika pemberkasan untuk pencairan tunjangan Tamsil dan TPG harus menyertakan lembar SPTJM dari absen di hadir.gtk.kemdikbud.go.id versi ke 2.

Mudah-mudahan ada perbaikan dan perbesaran server dari kemdikbud sehingga server hadir.gtk.kemdikbud.go.id versi ke 2 mudah diakses dari kabupaten-kabupaten yang berada jauh dari kota dengan koneksi internet yang kurang mumpuni dan tidak terlalu stabil. Dan diharapkan adanya keringanan dari dinas pendidikan setempat tentang syarat pemberkasan tunjangan-tunjangan yang berkaitan dengan hadir.gtk.kemdikbud.go.id versi ke 2 ini.

TERIMA KASIH

Jumat, 27 April 2018

OSN (Olimpiade Sains Nasional)
O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional)
FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional)
Tingkat Kecamatan Amuntai Selatan 
Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan

Kompetisi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Sekolah Dasar (SD) tingkat Kecamatan Amuntai Selatan tahun 2018, resmi dibuka pada hari Senin 12 Maret 2018, di SD Negeri Jumba 1 sebagai tempat acara pembukaan dan tempat beberapa pertandingan. Dua hari setelah itu pada tempat yang sama juga digelar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SD tingkat Kecamatan Amuntai Selatan. Sebelum O2SN ini digelar, telah dilaksanakan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kecamatan Amuntai Selatan tahun 2018 juga di tempat yang sama.
O2SN tahun 2018 tingkat Kecamatan Amuntai Selatan hanya memperlombakan empat cabang olahraga, yakni Kid’s Atletik, Senam, Bulutangkis dan Pencak Silat.
“Untuk cabang olahraga Senam dan Pencak Silat mengambil tempat di SD Negeri Jumba 1. Sedangkan Cabang Bulutangkis di GOR Badminton H. Ijar Palampitan dan untuk Kid’s Atletik dilapangan sepak bola Desa Jumba Kecamatan Amuntai Selatan.
SD Negeri Kota Raja sendiri mengirimkan siswa-siswanya sebagai atlit pada cabang olahraga Kid’s Atletik, Senam dan Bulutangkis. Untuk pencak silat tidak ada siswa SDN Kota Raja yang berkompeten di bidang tersebut.




Untuk cabang olahraga Kid’s Atletik SDN Kota Raja hanya mampu meraih peringkat 10 untuk putera dan peringkat 12 untuk puteri. Untuk cabang olahraga Senam, SDN Kota Raja tidak meraih satu gelar pun. Pada cabang olahraga Bulutangkis Siswa atlit dari SDN Kota Raja, untuk putera hanya mampu mencapai babak 8 besar tetapi untuk Puteri SDN Kota Raja mampu meraih hasil maksimal yaitu juara Pertama atas nama Melda.




Pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang telah dilaksanakan sebelumnya, Siswa SDN Kota Raja atas nama Rina Hilmina menorehkan prestasi memperoleh Juara pertama pada lomba mata pelajaran MIPA. Pada lomba mata pelajaran Matematika siswa dari SDN Kota Raja untuk tahun ini belum mampu masuk peringkat 3 besar. Untuk juara pertama lomba mata pelajaran Matematika di raih oleh Elva Triana dari SDN Jumba 1.



Untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SD tingkat Kecamatan Amuntai Selatan tahun 2018 SDN Kota Raja juga mengirimkan siswa-siswanya untuk berlomba pada ajang tersebut. Cabang yang diikuti SDN Kota Raja adalah Pantomim dan Gambar Bercerita. Pada nomor pantomim SDN Kota Raja gagal mempertahankan gelar juara yang diraih pada tahun sebelumnya. Sedangkan pada cabang lomba Gambar Bercerita siswa SDN Kota Raja mampu mempertahankan Tropi Juara Pertama yang diraih pada tahun sebelumnya. Siswi tersebut atas nama Munawarah.



Dengan adanya kegiatan-kegiatan lomba tersebut merupakan pengaruh yang positif untuk siswa-siswi Sekolah Dasar di kecamatan Amuntai Selatan khususnya siswa-siswi SDN Kota Raja supaya terus meraih prestasi dan menjunjung tinggi sportifitas dan kejujuran sehingga tetap berprestasi pada ajang lomba yang akan dihadapi pada tahapan dan waktu selanjutnya.

Rabu, 13 Desember 2017

Sudah hampir 3 pekan, Kota Amuntai dan sekitarnya dilanda banjir akibat tingginya curah hujan dan luapan air sungai kiriman dari sungai Tabalong dan sungai Balangan. Banyak perkantoran, perumahan hingga fasilitas pendidikan yang diserbu banjir.
SEPUTARAN DAERAH KOTA yang terlihat terkena banjir adalah kawasan Polres Hulu Sungai Utara (HSU), di depan daerah sekitaran rumah sakit, sampai juga terlihat di samping kantor Pemda dan PU kab. Hulu Sungai Utara.
Untuk daerah-daerah kecamatan lain diantaranya kecamatan Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Amuntai Utara, Sungai Pandan, dan yang terlihat parah terkena dampak banjir adalah kecamtan Banjang.
Selain aktivitas perekonomian dan kegitan warga masyarakat yang terganggu dan mengalami banyak sekali kerugian, aktivitas proses belajar mengajar pun mengalami hal yang serupa, terlihat ketika para siswa siswi menerobos banjir untuk mencapai sekolah begitu pula dengan perjalanan kembali pulang kerumah, sesampai di sekolahpun ternyata sekolah banjir.
Hal tersebut juga terjadi di SD NEGERI KOTA RAJA kecamatan Amuntai Selatan.

 
Untuk mencapai sekolah siswa dan siswi harus menempuh perjalanan dengan melewati banjir, khususnya bagi mereka yang bertempat tinggal di kawasan tepian kali negara desa Kota Raja, desa Teluk Paring, dan komplek perumahan CPI 1. Hal ini tentu sangat membahayakan dan berisiko bagi mereka.




Ketika sampai di sekolah pun SD Negeri Kota Raja juga terkena banjir yang lumayan dan tentu mengganggu proses belajar mengajar. 
Dengan keadaan seperti ini, Alhamdulillah para Dewan Guru pengajar dan Siswa Siswi di SD Negeri Kota Raja tetap semangat untuk mengajar dan mengikuti pelajaran. Hal tersebut terlihat dari antusias para dewan guru dan siswa siswi yang tetap hadir kesekolah setiap harinya.
Bagi siswa dan siswi khusunya sekolah dasar, fenomena banjir disekolah tentulah mereka gunakan untuk bermain air dan al hasil baru jam 9 mereka sudah basah kuyup dan tidak mungkin bisa mengikuti pelajaran. Teguran guru pun kadang di abaikan oleh mereka karena usia mereka adalah usia bermain dan bergembira, sehingga para dewan guru pun akhirnya hanya bisa diam dan menjaga mereka bermain air khususnya untuk kelas 1,2 dan 3. Karena keadaan tersebut akhirnya Kepala sekolah mengadakan rapat dengan dewan guru dan meminta ijin kepada Kepala UPT Disdik Kec. Amuntai Selatan untuk meliburkan siswa dan siswi selama 2 hari karena banjir yang semakin meninggi dan membahayakan bagi siswa dan siswi.
Untuk tahun 2017 ini banjir dirasakan sangat tinggi, hal tersebut terlihat karena beberapa tahun yang telah lalu SD Negeri Kota Raja tidak pernah mengalami banjir.Begitu Pula dangan kecamatan - kecamatan lain juga merasakan bahwa pada tahun ini memang banjir akibat luapan sungai karena kiriman dari sungai Tabalong dan Balangan sangatlah tinggi.
Mudah - mudahan ada upaya yang bisa dilakukan khususnya pemerintah Daerah dari Kab. Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Utara dalam mengatasi masalah banjir yang sangat memprihatinkan ini.

Senin, 02 Oktober 2017

8 Tipe Belajar Menurut Gagne

Menurut Robert M. Gagne belajar mempunyai 8 tipe. Kedelapan tipe ini bertingkat- ada hirarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Tipe belajar dikemukakan oleh Gagne pada hakekatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupan mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajarpun terdapat tindakan sebagaimana tingkatan belajar tersebut di atas. Kedelapan tipe belajar itu adalah :

·       Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.

·       Belajar Stimulus – respons ( Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar S – R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R. Jadi belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.

·       Belajar Rangkaian ( Chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antar S-R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan, minum, atau gerakan verbal seperti selamat tinggal, bapak-ibu.

·       Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)
Suatu kalimat “unsur itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa unsur berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.

·       Belajar Diskriminasi ( Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.

·       Belajar Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang bertulan belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, burung, ikan. Dapat pula digolongkan, manusia berdasarkan ras (warna kulit) atau kebangsaan, suku bangsa atau hubungan keluarga. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat melakukan diskriminasi. 

·       Belajar Aturan (Rule Learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah rule (aturan). Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180 derajat. Belajar aturan ternyata mirip dengan verbal chaining (rangkaian verbal), terutama jika aturan itu tidak diketahui artinya. Oleh karena itu setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.

·       Belajar Pemecahan masalah ( Problem Solving Learning)
Memecahkan masalah adalah biasa dalam kehidupan. Ini merupakan pemikiran. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu, mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba (insight). Dengan ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang penyelesaiannya ditemukan sendiri- lebih mantap dan dapat ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.

Kedelapan tipe belajar di atas itu ada hirarkinya. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Untuk memecahkan masalah misalnya, perlu dikuasai sejumlah aturan yang relevan dan untuk menguasai aturan perlu dipakai semua konsep dalam aturan itu. Agar dikuasi konsep perlu kemampuan membuat perbedaan, dan agar dapat membuat perbedaan perlu dikuasai verbal chain, dan seterusnya.
Biasanya dalam proses pembelajaran di sekolah hanya sampai pada tingkat konsep. Namun adakalanya kita harus menggunakan taraf belajar lebih rendah lagi. Agar belajar dapat mencapai lebih taraf tinggi diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip sebagaimana diuraikan di atas.

Source : http://editopan.guru-indonesia.net/artikel_detail-36689.html
Best regards,


Artikel Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Metode R.I.C.E. (Rest, Ice, Compression and Elevation) pada Penanganan Cedera Olahraga Akut






Cedera pada jaringan lunak (otot, ligamen dll) seperti keseleo, otot tertarik atau memar, dapat di tangani sendiri secara cepat dengan menggunakan metode R.I.C.E. Metode ini sangat efektif dan bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama sebelum dibawa berobat ke tenaga medis. Metode ini lebih disarankan untuk dilakukan jika dibandingkan dengan tindakan pemijatan oleh tukang pijat/tukang urut.
RICE adalah singkatan dari Rest (Istirahat), Ice (Es/dingin), Compression (Kompresi/tekanan) dan Elevation (Elevasi/Pengangkatan). Masyarakat, khususnya yang berkecimpung dalam dunia Olahraga, sebaiknya memiliki pengetahuan yang baik akan metode ini. Cedera olahraga dapat diminimalisir dan dicegah sebaik-baiknya jika metode ini dapat diterapkan secepatnya ketika terjadi cedera akibat olahraga.
Berikut adalah penjelasan tentang metode R.I.C.E. :
1.   Rest. Tindakan ini dilakukan dengan cara mengistirahatkan orang yang mengalami cedera dan melindungi bagian otot atau sendi yang mengalami cedera. Jika bagian tersebut terasa sakit saat menahan beban, maka gunakanlah penopang. Jika bagian tersebut terasa sakit ketika digerakkan, maka lindungilah dengan menggunakan splint (spalek).
2.   Ice. Tindakan ini artinya memberikan suhu dingin pada bagian yang mengalami cedera, bisa menggunakan Es batu atau sesuatu yang menghasilkan suhu dingin. Pendinginan dapat mengurangi pembengkakan dan rasa sakit pada bagian tersebut. Langkah ini sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Tempelkan kain dingin yang telah terdapat Es didalamnya atau Cool Pack pada bagian cedera. Berilah jeda waktu selama 5-10 detik antara ditempelkan pada bagian yang cedera dan diangkat, lakukan secara terus menerus selama 20 menit. Metode ini dilakukan selama tiga kali pada 24 jam pertama.
3.   Compression. Tindakan ini artinya kompresi atau penekanan pada daerah yang mengalami cedera dengan menggunakan perban khusus (ace bandage). Kompresi berfungsi mengurangi pembengkakan di sekitar daerah yang mengalami cedera. Dalam melakukan balutan pada daerah yang mengalami cedera, harus dipastikan bahwa perban tidak terlalu ketat karena dapat menimbulkan mati rasa atau bahkan menambah rasa sakit.
4.   Elevation. Tindakan ini dilakukan dengan memposisikan bagian yang cedera menjadi lebih tinggi dari jantung, terutama saat berbaring. Misalnya jika bagian yang mengalami cedera adalah pergelangan kaki, maka upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian pergelangan kaki ditopang sehinga posisinya lebih tingi dari jantung.


Metode RICE sebaiknya diterapkan pada penderita selama 48 hingga 72 jam pasca cedera. Penderita juga sebaiknya menghindari pemijatan atau urut sebelum diketahui secara pasti cedera apa yang dialaminya. Baru setelah menjalani metode ini (RICE), pasien boleh mendapatkan terapi lanjutan seperti fisioterapi, terapi panas atau pemijatan. Pemijatan atau urut yang tidak sesuai dengan prosedur dikhawatirkan akan memperparah cedera, terutama cedera-cedera yang terdapat kerusakan jaringan seperti otot sobek, ligamen putus atau bahkan perdarahan di dalam.
Selama menjalani metode RICE, pasien diperbolehkan untuk meminum obat-obatan penghilang rasa sakit, namun sebaiknya obat-obatan tersebut diberikan atas anjuran dokter.


Semua olahraga memiliki risiko cidera, dimana pada saat cidera, kualitas dan performa atlet di lapangan akan menurun.

Ada dua jenis cidera dalam berolahraga. Cidera langsung (traumatic injury) maupun tidak langsung (overuse injury).
Traumatic injury di sini dapat dilihat dengan jelas penyebabnya. Misalnya jatuh, salah gerak, tertabrak, dan lain-lain sehingga menyebakan robekan/putusnya jaringan lunak (soft tissue) seperti ligamen, otot, tendon hingga terjadinya fraktur (patah tulang). Pada kondisi yang seperti ini, diperlukan penanganan medis professional seperti dokter atau fisioterapis.

Overuse injury yaitu cedera yang diakibatkan karena tekanan berulang-ulang biasanya diakibatkan karena pemakaian berlebih. Berhubungan dengan beratnya beban latihan, istirahat yang kurang, perawatan cedera sebelumnya yang kurang tepat serta persiapan dalam pertandingan seperti warming upstretching dan cooling downsetelah pertandingan yang kurang maksimal dan efektif.

Pada saat cedera, tubuh meresponnya dengan tanda-tanda peradangan dari dalam tubuh seperti rubor (kemerahan), tumor (bengkak), kalor (panas), dolor (nyeri) serta functiolesa (penurunan fungsi). Respon tersebut bertujuan untuk memulihkan jaringan yang cedera.

Pembuluh darah di tempat yang mengalami cedera akan melebar (vasodilatasi) dengan maksud untuk mengirim lebih banyak nutrisi dan oksigen supaya mempercepat penyembuhan. Adanya pelebaran pembuluh darah ini menyebabkan tempat yang cidera menjadi lebih terlihat kemerahan (rubor), dan darah yang banyak ini akan merembes dari kapiler menuju ruang antar sel sehingga akan terlihat bengkak (tumor). Karena banyaknya nutrisi dan oksigen sehingga metabolisme meningkat dengan sisa metabolisme berupa panas (kalor). Tumpukan sisa metabolisme dan zat kimia lainnya ini akan merangsang syaraf perasa nyeri di tempat yang cedera sehingga timbul nyeri (dolor). Semuanya akan mengakibatkan penurunan fungsi sendi (functiolesa).

Pada saat terjadi cidera banyak yang masih bingung dalam penanganan cidera. Kebanyakan langsung memberikan balsam ataupun pijatan. Sebuah penangan yang tidak tepat. Penanganan yang tidak tepat akan memperburuk cidera dan memperlambat proses penyembuhan.

Dari segi medis penanganan untuk cedera olahraga untuk soft tissue secara umum memiliki prinsip RICER dan menghindari HARM.

Do RICER!

Rest: Istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cidera agar cidera tidak semakin parah. Jika merasakan nyeri pada saat bergerak itu berarti tubuh mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk mengurangi gerakan di bagian tubuh yang cedera. Kurangi pembebanan tubuh di bagian yang cidera misalkan dengan menggunakan kruk. Istirahat sendiri minimal 48-72 jam. 

Untuk kondisi cidera ringan pada saat bertanding dan dapat melanjutkan permainan, harus dicek terlebih dahulu oleh tim medis dokter atau fisioterapis dan diberikan support sepertitapping/kinesiotape/decker.

Ice: Kompres dengan menggunakan es/dingin  sesegera mungkin, kompres bisa menggunakn es batu ditumbuk dimasukkan plastik kemudian dibebat maupun menggunakan ice bag, atau kompres dengan handuk yang sudah direndam air dingin. Tujuannya adalah mengurangi nyeri dan bengkak pada fase inflamasi, supaya pembuluh darah yang melebar menjadi lebih menutup.

Aplikasikan 10-15 menit saja. Bila lebih dari 20-30 menit justru akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Ulangi kompres setelah 30 menit. Pada 24-72 jam bisa sehari melakukan 6-7 kali kompres es.

Compression: Gunakan bebat menggunakan perban elastis, atau adhesive elastic bandage,kinesiotaping dan taping untuk mengurangi bengkak dan pendarahan. Dibebat jangan terlalu kencang. Lepas bebat pada saaat akan tidur kecuali kinesiotapingdapat digunakan hingga dua hari.

Elevation: Angkat bagian yang cidera lebih tinggi dari jantung. Misalnya ketika terkenasprain ankle maka ganjal ankle pada saat duduk/tidur dengan menggunakan bantal supaya mengurangi pembengkakan.

Referral: Segera rujuk ke dokter/fisioterapis apabila mencurigai cidera termasuk parah dan mengganggu aktifitas. Cidera akan mendapatkan pemeriksaan dan diagnosa, treatment dan program fisioterapi.




No HARM!

Heat: Menggunakan panas pada saat penanganan pertama cidera akan meningkatkan pembengkakan karena panas akan membuat pembuluh darah semakin melebar, seperti pemberian balsam, jahe, minyak kocok, sauna, berendam di bathub, dan shower panas.


Alcohol: Meminum alkohol atau merendam bagian yang cidera dengan alohol akan meningkatkan pembengkakan serta memperlambat proses penyembuhan.

Running: Berlatih dalam 48-72 jam saat cidera akan memperburuk kondisi. Seseorang dinyatakan aman bermain kembali setelah dilakukan pemeriksaan dan diagnosa dari dokter/fisioterapis.

Massage: Massage (pijatan) pada saat cidera akan meningkatkan aliran darah sehingga akan membuat semakin bengkak, dan dapat terjadi kerusakan pada jaringan yang cedera. Misalnya ligamennya terluka lalu diberikan massage maka luka sobeknya akan semakin melebar dan pada saat kembali ke lapangan menjadi kendor dan terganggu stabilitasnya sehingga memudahkan terjadinya cidera ulang.


Selasa, 12 September 2017

Ruang lingkup Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
1.     Permainan dan olahraga meliputi :
Olahraga tradisional, permainan eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tennis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
2.    Aktivitas pengembangan meliputi :
Mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.
3.    Aktivitas senam meliputi :
Ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya.
4.    Aktivitas ritmik meliputi :
Gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya.
5.    Aktivitas air meliputi :
Permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
6.    Pendidikan luar kelas, meliputi :
Piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung.
7.   Kesehatan, meliputi :
Penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari- hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.